Tata Tertib Hanya Sebagai Bumbu Penyedap Ujian

Hari pertama menjalani Ujian Akhir Semester harus disuguhi pengawas yang tidak bisa baca tata tertib di kartu ujian. “Yang tidak memakai baju warna putih silahkan mengerjakan soal di luar kelas” merupakan kalimat pengantar setelah membagikan kertas soal dan jawaban. Dengan kesadaran diri saya keluar ruangan toh pada saat itu saya mengenakan baju warna abu-abu. Teman seperjuangan pun ikut menyusul dengan baju putih bergaris serta kawan lain yang tidak memakai almamater.

Mengerjakan soal di luar ruangan bukan menjadi masalah serius bagi kami, namun ketika daftar hadir peserta ujian disodorkan tertulis di samping nama kami “tidak disiplin”. #lol perasaan nyamanpun berubah menjadi terkejut bercampur dengan rasa kurang terima dengan gelar gratis yang diberikan oleh pengawas tersebut. Mikir juga, saya sebagai peserta ujian sedikit lupa dengan tata tertib yang ada, toh kartu ujian dikumpulkan di meja pengawas.

Bergegas menjawab seluruh pertanyaan dan segera mengumpulkan ke pengawas tersebut. Ambil kartu ujian yang tertumpuk dan membaca dengan seksama peraturan yang tertulis. Seperti berikut peraturan tersebut :

Ternyata ada benarnya juga saya keluar dari kelas, tertera pada point 2 “Pakaian atas putih (Hem) bawah gelap (bukan jeans) bersepatu dan memakai jas almamater” . Memandang kebelakang sejenak Loh teman2 saya banyak yang memakai celana jeans, kelas lainpun juga begitu. Namun kenapa mereka gak ikut keluar bersama saya? kenapa mereka tidak mendapat gelar gratis “tidak disiplin” seperti saya?  Ya tentunya saya tidak enak dengan mereka, jangan-jangan mereka iri kepada kami bertiga tadi. Coba saya konfirmasikan dengan pengawas tersebut.

Saya : “Pak ini ada tulisannya tidak boleh memakai celana jeans, tapi teman-teman banyak yang pakai, mereka kok tidak senasib dengan saya?”

Pengawas : “Kalau mereka saya samakan dengan kalian, seluruh kelas bakal keluar ruangan donk”

Saya : “Lha terus tata tertib ini buat apa? buat formalitas? biar ujian ini kelihatan keren?”

Pengawas : “Ini sudah dikondisikan dengan keadaan yang ada”

Mohon maaf jika jawaban saya yang terakhir terdengar lancang “Oke, terserahlah!!

Semakin saya mengerti bahwa peraturan di kampus saya hanya sebagai bumbu penyedap setiap kali ujian. Agar terlihat keren kartu ujiannya. Eh tapi hal ini tidak terjadi dengan pengawas lainnya yang masih memberi toleransi kepada kami. Hanya anda bapak pengawas yang cakep yang punya rasa tidak adil kali ini. Selamat kepada anda yang telah nampang di blog ini.

Posted on January 20, 2012 |

Share :

Related Posts